Nasihat Singkat

Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari)

HAKIKAT HIDUP DI DUNIA

Assalamu'alaikum warahmatullohi wabarokatuh

Tujuan Hidup di Dunia
Berdoa kepada Allah

Sahabat Muslim sekalian, Sesungguhnya Rabb kita telah berfirman:

أَيَحسَبُ الإنسَانُ أَنْ يُترَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?”

(QS. Al-Qiyāmah: 36)

Tafsir Kalimat Tauhid 

لَا إلهَ إلَّا اللهُ 

        Kata إلهَ berasal dari kata أَلَهَ  - يَألَهُ  - إلَاهًا dan yang disembahnya disebut مَعْلُوهٌ  , maknanya sama halnya dengan عَبَدَ يَعبُدُ    - عبَادَةٌ  dan yang disembahnya disebut مَعبُودٌ.

       Di dalam syahadat tersebut sebetulnya terkandung kata yang tersembunyi setelah kata   لا إلهَ yaitu “حق  /  بحقdengan sebenarnya. Sehingga jika diterjemahkan kalimat syahadat tersebut adalah,’ tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecali Alloh (saja).

            Sesungguhnya Alloh menciptakan langit-langit dan bumi dan apa yg ada di dalamnya  demikian juga apa yang ada diantara keduanya hanya saja karena terdapat  hikmah  yang sempurna.

Alloh Ta'ala berfirman : 
وما خلقنا السماوات والأرض وما بينهما لاعبين
(
الأنبياء : 16)
“Dan tidaklah Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya secara sia-sia ” (QS.Al-Anbiya : 16)

Imam Al-Baghowi, ketika menafsirkan ayat di atas beliau mengatakan :

أي : عبثا و باطلا
(maknanya) yaitu sia-sia dan tidak memiliki kebenaran. Lawan dari  sia-sia adalah “maqbuulun” (diteriama).

Maksudnya adalah Alloh Ta'ala tidak menciptakan langit-langit, dunia dan apa yang ada di dalamnya baik manusia, hewan tumbuhan dan lain sebagainya secara sia-sia melainkan ada hikmah yang besar bagi hamba-hamba-Nya.

Alloh  Ta'ala
 juga berfirman :

وما خلقنا السّماوات و الأرض وما بينهما لاعبين * ما خلقناهما إلّا بالحقّ ولكنّ أكثرهم لايعلمون

“Dan tidaklah Kami menciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dengan main-main. Dan tidaklah kami menciptakan keduanya kecuali dengan hak (benar) akan tetapi kebanyakan mereka tidak (memiliki) pengetahuan  ”. (Ad-Dikhoon : 38-39)

Subhaanallooh, Alloh menggunakan kata yang begitu membuat orang yang cerdas akan berfikir tentang begitu hebatnya Alloh dalam memilih kata sehingga Alloh tidak mengatakan ولكنّ أكثرهم يجهلون  (Akan tetapi kebanyakan mereka bodoh),  tapi justru Alloh mengatakan ولكنّ أكثرهم لايعلمون ( akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui ) dimana kata tersebut tidak menjadikan merasa sakit hati orang yang mendengarnya namun akan tersentak bagi orang-orang yang cerdas bahwa hal itu merupakan teguran tegas dari Alloh atas dirinya. Orang yang cerdas itu  menyadari betul bahwa Alloh Ta'ala menciptakan manusia itu dengan sebuah urusan yang sangat serius dan tidak di pandang remeh.
 
Imam al Baghowi (wafat tahun 516 H)Ketika menafsirka Qs. Ad-Dukhon ayat 38-39 pada kalimat  إِلَّا بِالْحَقِّ   beliau berkata:
قِيلَ: يَعْنِي لِلْحَقِّ، وَهُوَ الثَّوَابُ عَلَى الطَّاعَةِ، وَالْعِقَابُ عَلَى الْمَعْصِيَةِ
Dikatakan: maksudnya adalah untuk kebenaran, yaitu berupa pahala atas ketaatan dan siksa atas perbuatan maksiat.  (Ma‘ālim at-Tanzīl )


Alloh  Ta'ala
 berfirman :
 
أَيَحسَبُ الإنسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakanh manusia mengira bahwa ia di ciptakan secara sia-sia” (QS.Al-Qiamah)

 As Suddiy Rahimahulloh  menjelaskan tafsir dari kata “ سُُدًى “ , kata beliau : “(kamu) tidak akan dibangkitkan ?”
Semua manusia akan dibangkitkan untuk kemudian dimintai pertanggung jawaban di hadapan Alloh subhanahu wata'ala. Sungguh kehidupan di dunia ini sangat singkat dan sedikit sekali jatah yang kita peroleh.    
                                  

Sesungguhnya manusia itu akan melewati beberapa perjalanan/ tahapan hidup antara lain :
1-     1. Al-Kitaabah (lauhul mahfizh)
2-     2. Rahim (perut seorang ibu)
3-     3. Dunia
4-     4. Alam barzakh / alam kubur
5-     5. Hari Kiamat
6-      6. Al-Ba’tsu / hari kebangkitan

        Hari kebangkitan adalah hari dimana amalan seorang hamba akan dimintai pertanggung jawabannya selama hidupnya di dunia. Karena itulah ikhwah sekalian jika kita renungkan jatah waktu hidup kita didunia ini sebetulnya sangat sedikit. Sebagaimana Nabi telah menyebutkan bahwa usia umat beliau antara 60 sampi dengan 63 tahun. Padahal kita menghitung amal ibadah kita ini dan dibandingkan dengan maksiat, maka kemaksiatan itu lebih banyak dikerjakan daripada keta’atan kepada Alloh, bukankah demikian?

        Usia 60 atau 63 tahun tersebut belum tentu semua waktu tersebut dikerjakan untuk ibada sepenuhnya. Namun masih terbuang oleh waktu tidur setiap malam sebanyak 8 jam atau lebih. Belum lagi dipotong waktu melamun, atau perkara-perkara yang tidak mengandung manfaat, sehingga jika dihitung sebetulnya hidup kita itu hanyalah berkisar diantara 17 tahun atau lebih. Itupun belum dikurangi dengan ibadahnya yang kurang khusyu dan seterusnya. Maka bersiap-siaplah untuk menghadapi hari kebangkitan tersebut wahai hamba Alloh.

        Imam Mujaahid dan imam Asy-Syafi’I dan orang selain keduanya menafsirkan makna سدًىpada ayat tersebut dengankata , لا يُأمر وَلَا يُنهى   tidak akan diperintah dan tidak dilarang” (Tafsiir Ibnu Katsiir4/148)

Bukankah yang tidak mendapatkan perintah dan larangan itu hanyalah hewan ayuhal ikhwah ? Oleh sebab itulah, Imam Mujahid dan Imam Syafi’i seolah-olah mengatakan, ‘Apakah manusia mengira bahwa ia akan diciptakan begitu saja layaknya hewan ?
Hewan itu hidup yang ada dipikirannya hanya makan, minum, tidur- makan, minum, tidur. Maka kalau kita hidup ini hanya memikirkan masalah-masalah itu saja dan tidak tahu hakikat dan tujuan dia diciptakan, maka ia tidak ubahnya seperti hewan.

Ada sebuah pertanyaan, apa jawaban antum ketika antum ditanya dengan pertanyaan. Apakah antum hidup untuk makan ?, atau makan untuk hidup ?. Maka apa jawaban anda ?
Jawabannya adalah bukan kedua-duanya. Seharusnya pertanyaannya tidak boleh seperti itu. Yang salah adalah pertanyaannya.

Sahabat Muslim sekalian,  ketahuilah kita makan adalah untuk ibadah, yakni agar ia dapat membantu ibadah kita kepada Alloh- سبحانه وتعالى -.

Pada surat Al-Mu’minun ayat 115 Alloh-
سبحانه وتعالى –berfirman:

أَفَحَسِبْتُم أنّما خلقنَاكم عَبثا وإنّكمْ إلينا لا تُرجَعُونَ

Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?

Ayat sersebut disebut juga “
إستفهام إنكريyaitu pertanyaan yang tidak perlu jawaban, karena   maksud ayat tersebut adalah sudah jelas. Adapun mengenai lafazh “وإنّكمْ إلينا لا تُرجَعُونَ” mengapa lafazh إلينا tidak di kedepankan sehingga menjadi “وإنّكمْ إلينا لا تُرجَعُونَ”padahal boleh-boleh saja dibaca demikian?.  Karena ungkapan إلينا “ di kedepankan agar lebih tegas maknanya.

Ibnu Katsir رحمه الله تعالى berkata di dalam tafsir ayat ini:


Apakah kalian mengira bahwa kalian diciptakan dengan sia-sia dengan tanpa meksud dan tujuan       diantara kalian berupa hikmah untuk kami?

Apakah kalian mengira bahwa kalian diciptakan untuk bermain-main atau untuk kesia-siaan, ataukah kamu hendak bermain-main layaknya hewan yang tidak diberi pahala untuknya dan tidak pula hukuman?.
Pemateri           : Ustadz Achmad Rofi'i Lc. M.Mpd. حفظه الله تعالى
Waktu Kajian   : Setiap malam Senin ba'da Isya s/d  21.30 WIB.
Lokasi              : Masjid Al-I'tishoom Karawang

Tidak ada komentar:

BAHAYA SIHIR

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh Ilustrasi Sihir         Sesungguhnya orang yang melakukan sihir adalah orang yang kafir. All...