Assalamu'alaikum warahmatullohi wabarokatuh
أَيَحسَبُ الإنسَانُ أَنْ يُترَكَ سُدًى
“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?”
(QS. Al-Qiyāmah: 36)
Tafsir Kalimat Tauhid
لَا إلهَ إلَّا اللهُ
Kata ‘إلهَ’ berasal dari kata أَلَهَ - يَألَهُ - إلَاهًا dan yang disembahnya disebut مَعْلُوهٌ , maknanya sama halnya dengan عَبَدَ – يَعبُدُ - عبَادَةٌ dan yang disembahnya
disebut مَعبُودٌ.
Di dalam syahadat tersebut sebetulnya terkandung
kata yang tersembunyi setelah kata لا إلهَ yaitu “حق / بحق” dengan sebenarnya. Sehingga jika diterjemahkan kalimat syahadat
tersebut adalah,’ tidak ada ilah yang
berhak untuk diibadahi dengan benar kecali Alloh (saja).
Sesungguhnya Alloh menciptakan langit-langit dan bumi dan apa yg ada di dalamnya demikian juga apa yang ada diantara keduanya hanya saja karena terdapat hikmah yang sempurna.
Alloh Ta'ala berfirman :
وما خلقنا السماوات والأرض وما بينهما لاعبين
(الأنبياء : 16)
(الأنبياء : 16)
“Dan tidaklah Kami ciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada
diantara keduanya secara sia-sia ” (QS.Al-Anbiya : 16)
Imam Al-Baghowi, ketika menafsirkan ayat di atas beliau mengatakan :
أي : عبثا و باطلا
(maknanya)
yaitu sia-sia dan tidak memiliki kebenaran. Lawan dari sia-sia adalah “maqbuulun” (diteriama).
Maksudnya adalah Alloh Ta'ala tidak menciptakan langit-langit, dunia dan apa yang ada di dalamnya baik manusia, hewan tumbuhan dan lain sebagainya secara sia-sia melainkan ada hikmah yang besar bagi hamba-hamba-Nya.
Alloh Ta'ala juga berfirman :
Alloh Ta'ala juga berfirman :
وما خلقنا السّماوات و الأرض وما بينهما لاعبين * ما خلقناهما إلّا
بالحقّ ولكنّ أكثرهم لايعلمون
“Dan tidaklah Kami menciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dengan main-main. Dan tidaklah kami menciptakan keduanya kecuali dengan hak (benar) akan tetapi kebanyakan mereka tidak (memiliki) pengetahuan ”. (Ad-Dikhoon : 38-39)
Subhaanallooh, Alloh menggunakan kata yang begitu
membuat orang yang cerdas akan berfikir tentang begitu hebatnya Alloh dalam
memilih kata sehingga Alloh tidak mengatakan ولكنّ أكثرهم يجهلون (Akan tetapi kebanyakan mereka bodoh), tapi
justru Alloh mengatakan ولكنّ
أكثرهم لايعلمون ( akan tetapi kebanyakan mereka tidak
mengetahui ) dimana kata tersebut
tidak menjadikan merasa sakit hati orang yang mendengarnya namun akan tersentak
bagi orang-orang yang cerdas bahwa hal itu merupakan teguran tegas dari Alloh atas dirinya. Orang yang cerdas itu menyadari betul bahwa Alloh Ta'ala menciptakan
manusia itu dengan sebuah urusan yang sangat serius dan tidak di pandang remeh.
Imam
al Baghowi (wafat tahun 516 H), Ketika menafsirka Qs. Ad-Dukhon ayat 38-39 pada kalimat إِلَّا بِالْحَقِّ beliau berkata:
Dikatakan: maksudnya adalah untuk kebenaran, yaitu berupa pahala atas ketaatan dan siksa atas perbuatan maksiat. (Ma‘ālim at-Tanzīl )
Alloh Ta'ala berfirman :
أَيَحسَبُ الإنسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
“Apakanh manusia mengira bahwa ia di ciptakan secara
sia-sia” (QS.Al-Qiamah)
As Suddiy Rahimahulloh menjelaskan tafsir dari
kata “ سُُدًى
“ , kata beliau : “(kamu) tidak akan dibangkitkan ?”
Semua manusia akan dibangkitkan untuk
kemudian dimintai pertanggung jawaban di hadapan Alloh subhanahu wata'ala. Sungguh kehidupan
di dunia ini sangat singkat dan sedikit sekali jatah yang kita peroleh.
Sesungguhnya manusia itu akan melewati beberapa
perjalanan/ tahapan hidup antara lain :
1- 1. Al-Kitaabah (lauhul mahfizh)
2-
2. Rahim (perut seorang ibu)
3-
3. Dunia
4-
4. Alam barzakh / alam kubur
5-
5. Hari Kiamat
6- 6. Al-Ba’tsu / hari
kebangkitan
Hari kebangkitan adalah hari
dimana amalan seorang hamba akan dimintai pertanggung jawabannya selama
hidupnya di dunia. Karena itulah ikhwah sekalian jika kita renungkan jatah
waktu hidup kita didunia ini sebetulnya sangat sedikit. Sebagaimana Nabi telah
menyebutkan bahwa usia umat beliau antara 60 sampi dengan 63 tahun. Padahal kita menghitung amal ibadah kita ini dan dibandingkan dengan maksiat, maka kemaksiatan
itu lebih banyak dikerjakan daripada keta’atan kepada Alloh, bukankah demikian?
Usia 60 atau 63 tahun tersebut belum tentu semua waktu tersebut dikerjakan
untuk ibada sepenuhnya. Namun masih terbuang oleh waktu tidur setiap malam
sebanyak 8 jam atau lebih. Belum lagi dipotong waktu melamun, atau
perkara-perkara yang tidak mengandung manfaat, sehingga jika dihitung
sebetulnya hidup kita itu hanyalah berkisar diantara 17 tahun atau lebih.
Itupun belum dikurangi dengan ibadahnya yang kurang khusyu dan seterusnya. Maka
bersiap-siaplah untuk menghadapi hari kebangkitan tersebut wahai hamba Alloh.
Imam Mujaahid dan imam Asy-Syafi’I dan orang selain keduanya menafsirkan
makna “سدًى” pada ayat tersebut dengankata , لا يُأمر وَلَا يُنهى “tidak akan diperintah dan tidak dilarang”
(Tafsiir Ibnu Katsiir4/148)
Bukankah yang tidak mendapatkan perintah dan larangan itu hanyalah hewan ayuhal ikhwah ? Oleh sebab itulah, Imam Mujahid dan Imam Syafi’i seolah-olah mengatakan, ‘Apakah manusia mengira bahwa ia akan diciptakan begitu saja layaknya hewan ?
Bukankah yang tidak mendapatkan perintah dan larangan itu hanyalah hewan ayuhal ikhwah ? Oleh sebab itulah, Imam Mujahid dan Imam Syafi’i seolah-olah mengatakan, ‘Apakah manusia mengira bahwa ia akan diciptakan begitu saja layaknya hewan ?
Hewan itu hidup yang ada dipikirannya hanya makan, minum, tidur- makan,
minum, tidur. Maka kalau kita hidup ini hanya memikirkan masalah-masalah itu
saja dan tidak tahu hakikat dan tujuan dia diciptakan, maka ia tidak ubahnya
seperti hewan.
Ada sebuah pertanyaan, apa jawaban antum ketika antum ditanya dengan
pertanyaan. Apakah antum hidup untuk makan ?, atau makan untuk hidup ?. Maka apa jawaban
anda ?
Jawabannya adalah bukan kedua-duanya. Seharusnya pertanyaannya tidak boleh
seperti itu. Yang salah adalah pertanyaannya.
Sahabat Muslim sekalian, ketahuilah kita makan adalah untuk ibadah, yakni agar ia
dapat membantu ibadah kita kepada Alloh- سبحانه وتعالى -.
Pada surat Al-Mu’minun ayat 115 Alloh- سبحانه وتعالى –berfirman:
أَفَحَسِبْتُم أنّما خلقنَاكم عَبثا وإنّكمْ إلينا لا تُرجَعُونَ
“Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? ”
Ayat sersebut disebut juga “إستفهام إنكري” yaitu pertanyaan yang tidak perlu jawaban, karena maksud ayat tersebut adalah sudah jelas. Adapun mengenai lafazh “وإنّكمْ إلينا لا تُرجَعُونَ” mengapa lafazh “ إلينا ” tidak di kedepankan sehingga menjadi “وإنّكمْ إلينا لا تُرجَعُونَ”padahal boleh-boleh saja dibaca demikian?. Karena ungkapan “إلينا “ di kedepankan agar lebih tegas maknanya.
Ibnu
Katsir رحمه الله تعالى berkata di dalam tafsir ayat ini:
Apakah kalian
mengira bahwa kalian diciptakan dengan sia-sia dengan tanpa meksud dan tujuan diantara kalian berupa hikmah untuk kami?
Apakah kalian
mengira bahwa kalian diciptakan untuk bermain-main atau untuk kesia-siaan,
ataukah kamu hendak bermain-main layaknya hewan yang tidak diberi pahala
untuknya dan tidak pula hukuman?.
Pemateri : Ustadz Achmad Rofi'i Lc. M.Mpd. حفظه الله تعالى
Waktu Kajian : Setiap malam Senin ba'da Isya s/d 21.30 WIB.
Lokasi : Masjid Al-I'tishoom Karawang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar