Nasihat Singkat

Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari)

BAHAYA SIHIR

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Ilustrasi Sihir


        Sesungguhnya orang yang melakukan sihir adalah orang yang kafir. Allah Ta'ala berfirman,

وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

"Tetapi setan-setanlah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia." (QS. Al-Baqarah: 102)

       Tujuan setan mengajarkan sihir kepada manusia agar mereka menyekutukan Allah Ta'ala.

Allah Yang Ta'ala berfirman tentang dua malaikat bernama Harut dan Marut. 

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ

"Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum me-ngatakan, "Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu jangan-lah kafir." Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya." (QS. Al-Baqarah: 102)

       Anda dapat melihat bahwa banyak orang tersesat dan terjerumus ke dalam praktik sihir. Mereka menganggap bahwa praktik sihir hanya haram. Mereka tidak tahu bahwa praktik sihir adalah kekafiran. Mereka terjerumus ke dalam sihir dan mempraktikkannya, yang jelas-jelas adalah sihir. Sihir tersebut dapat berupa sihir yang bertujuan untuk menceraikan pasangan suami istri, mantra cinta suami kepada istrinya, atau kebencian suami kepada istrinya, atau kebencian istri kepada suaminya, dan sebagainya dengan mengucapkan kalimat-kalimat aneh yang sebagian besar mengandung kesyirikan dan kesesatan.

       Hukuman bagi mereka yang melakukan sihir (tukang sihir) adalah dibunuh, karena mereka telah kufur kepada Allah.

       Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hindarilah tujuh dosa besar yang merusak." Kemudian beliau menyebutkan bahwa di antara dosa-dosa itu adalah sihir.

       Oleh karena itu, setiap hamba harus takut (bertakwa) kepada Rabbnya dan jangan sekali-kali masuk ke dalam perkara yang akan merugikan dirinya, baik di dunia maupun di akhirat. 

Diriwayatkan dari Nabi shalallahu'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ

"Hukuman untuk penyihir adalah dipenggal lehernya". 

(HR. At-Tirmidzi, hadits nomor 1460.) 

Sebenarnya, Riwayat di atas adalah perkataan Jundab Radhiyallahu Anhu

Bajalah bin Abdah berkata, "Sebuah surat datang kepada kami dari Umar Radhiyallahu 'Anhu setahun sebelum kematiannya (yang mengatakan), "Bunuh semua penyihir, baik laki-laki maupun perempuan." (HR. Ahmad juz 1 hal. 190.) 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى مُؤْمِنُ خَمْرٍ وَقَاطِعُ رَحِمٍ وَمُصَدِّقٌ بِالسِّحْرِ

Dari Abu Musa, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tiga orang tidak akan masuk surga: orang yang minum minuman keras, orang yang memutuskan tali sanak saudara, dan orang yang percaya pada sihir.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya)

Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu secara marfu, 

الرَّقَى وَالتَّمَائِمُ وَالتَّوَلَةُ شِرْكٌ

Sesungguhnya sihir, tamimah, dan tiwalah adalah kemusyrikan." 

(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud)

       Tiwalah adalah sejenis sihir yang bisa menumbuhkan rasa cinta dari seorang wanita kepada laki-laki (guna-guna). Sedangkan tamimah ada-lah manik-manik (jimat) untuk menolak pengaruh 'ain.

       Ketahuilah bahwa sebagian besar dosa besar, bahkan secara umum, tidak diketahui sebagai hal yang dilarang oleh mayoritas Muslim. Mereka tidak menemukan siapa pun yang melarang atau mengancam bahaya sihir. Oleh karena itu, para ulama tidak boleh terburu-buru menyalahkan orang karena tidak mengetahui hukum. Ia harus bersikap lembut kepada mereka dan mengajarkan sesuatu yang telah Allah ajarkan kepada mereka. Terutama jika mereka hidup dalam dunia kebodohan, misalnya tinggal di negara kafir yang sangat jauh. Kemudian mereka ditangkap dan dibawa ke negara Islam.

       Misalnya seperti bangsa Turki yang musyrik, yang tidak mengerti bahasa Arab. Kemudian pemimpin bangsa Turki yang tidak memiliki ilmu dan pemahaman terhadap Islam. Kemudian dengan kesunggu-hannya, ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan mempelajari bahasa Arab sehingga mengerti makna dari dua kalimat syahadat tersebut setelah (mempelajarinya) siang dan malam. Apabila seperti ini, maka Alhamdulillah

       Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, terkadang ia menu-naikan shalat dan terkadang tidak. Terkadang ia bisa menghafal surat Al-Fatihah dalam waktu yang cukup lama. Hal ini bisa terwujud ketika gurunya memiliki sedikit ilmu pengetahuan agama. Akan tetapi, apabila gurunya sama dengan dirinya (sama-sama tidak berilmu), maka bagaimana mungkin orang yang bodoh seperti ini akan mengenal syari'at-syari'at Islam dan mengenal dosa-dosa besar kemudian menjauhinya? Dari mana ia bisa mengenal kewajiban-kewajiban kemudian melaksanakannya? Sehingga akhirnya ia mengetahui dosa-dosa besar yang akan membinasakan kemudian mewaspadainya. Serta bisa mengetahui rukun-rukun dari perkara-perkara yang diwajibkan kemudian diyakininya yang pada akhirnya akan membuat dirinya menjadi orang yang beruntung. Hal seperti ini jarang sekali terjadi. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi seorang hamba memuji Allah Ta'ala atas karunia-Nya.

Jika dikatakan, "Ini kesalahannya, karena ia tidak pernah bertanya kepada orang lain tentang sesuatu yang menjadi kewajibannya."

Kita jawab: "Inilah yang diketahuinya. Ia tidak mengetahui bahwa ia harus bertanya kepada orang yang berilmu. Barangsiapa yang tidak diberi penerangan oleh Allah, maka tidak ada penerangan baginya. Siapapun tidak akan dianggap berdosa, kecuali untuk orang-orang yang telah mengetahuinya dan setelah ditegakkan hujjah kepadanya. Allah Mahalembut dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba Nya.

Allah Ta'ala berfirman,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

"Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS. Al-Isra: 15)

       Beberapa tokoh shahabat yang mulia pernah berada di negeri Ha-basyah (Ethiopia). Kemudian turunlah beberapa kewajiban dan larangan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kemudian larangan tersebut tidak sampai kepada mereka, kecuali setelah berlalu beberapa bulan lamanya. Dalam beberapa bulan tersebut, mereka menjadi orang-orang yang mendapat udzur (keringanan) karena ketidaktahuan mereka. Hal ini berlangsung sampai datang kepada mereka sebuah dalil. Oleh karena itu, dosa-dosa mereka akan dimaafkan dikarenakan ketidakta-huan mereka. Demikian pula bagi siapa saja yang belum mengetahui (hukumnya) atau belum mengetahui ayatnya.


Kisah Juraij dan Doa Seorang Ibu

 

Kisah Juraij mengabaikan panggilan ibu

      Kisah Juraij berikut ini merupakan argumen bahwa kita harus memprioritaskan berbakti kepada orang tua di atas amalan-amalan yang wajib, kifayah, dan sunnah. Kisah ini diriwayatkan oleh Nabi Muhammad صلى الله علي وسام. Muslim dalam Sahihnya meriwayatkan kisah ini: Dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم beliau bersabda: "Tidak ada bayi yang dapat berbicara saat masih di dalam buaian kecuali tiga bayi: bayi Isa bin Maryam, bayi dalam kisah Juraij, dan bayi dalam kisah Asy-sabu Ukhdud (lihat Sahih Muslim [no. 3005]).

       Juraij adalah seorang pria yang tekun beribadah. Ia membangun tempat ibadah dan selalu beribadah di sana. Ketika ia sedang melaksanakan salat sunnah, tiba-tiba ibunya datang dan memanggilnya: 'Wahai Juraij!' Juraij bertanya dalam hatinya: 'Ya Allah, manakah yang lebih penting bagiku, melanjutkan salatku atau memenuhi panggilan ibuku?' Akhirnya, ia melanjutkan salatnya hingga ibunya merasa kecewa dan meninggalkannya. Keesokan harinya, ibunya datang lagi kepadanya ketika Juraij sedang melaksanakan salat sunnah. Kemudian ibunya memanggilnya: 'Wahai Juraij!' Juraij berkata dalam hatinya: 'Ya Allah, manakah yang lebih penting bagiku, memenuhi panggilan ibuku atau salatku?' Kemudian Juraij melanjutkan salatnya hingga ibunya merasa kecewa dan meninggalkannya.

       Keesokan harinya, ibunya datang lagi ketika Juraij sedang melaksanakan salat sunnah. Seperti biasa, ibunya memanggil: 'Wahai Juraij!' Juraij berkata dalam hati: 'Ya Allah, mana yang harus kuutamakan, melanjutkan salat atau memenuhi panggilan ibuku?' Namun Juraij melanjutkan salatnya dan mengabaikan panggilan ibunya. Sayangnya, hal ini mengecewakan ibunya. 

Hingga tak lama kemudian, ibunya berdoa kepada Tuhan: 'Ya Tuhan, jangan bunuh dia sebelum dia menjadi sasaran fitnah dari para pelacur!'

       Kaum Bani Israil selalu memperbincangkan tentang Juraj dan ibadahnya, hingga ada seorang wanita pelacur yang cantik berkata: 'Jika kalian menginginkan popularitas Juraij hancur di masyarakat, maka aku bisa memfitnahnya demi kalian.

       Nabi melanjutkan sabdanya: "Kemudian pelacur itu mulai menggoda dan membujuk Juraij, tetapi Juraij tidak mudah tertipu oleh godaan pelacur itu. Kemudian pelacur itu pergi kepada seorang penggembala sapi yang kebetulan sering berlindung di tempat ibadah Juraij. Ternyata wanita itu berhasil menipunya hingga penggembala itu berzina dengannya sampai akhirnya wanita itu hamil."

       Setelah melahirkan, pelacur itu berkata kepada masyarakat sekitar: 'Bayi ini adalah hasil dari perbuatanku dengan Juraij.' Mendengar pengakuan wanita itu, masyarakat menjadi marah dan membenci Juraij. Mereka datang ke tempat ibadah Juraij untuk menghancurkannya.

       Selain itu, mereka juga menghakimi Juraij bersama-sama tanpa bertanya kepadanya terlebih dahulu. Kemudian Juraij bertanya kepada mereka: 'Mengapa kalian melakukan ini kepadaku?' Mereka menjawab: 'Kami melakukan ini kepadamu karena kamu berzina dengan pelacur ini sampai dia melahirkan seorang bayi sebagai akibat dari perbuatanmu.' Juraij berseru: 'Di mana bayinya?' Kemudian mereka membawa bayi hasil perzinahan itu. Juraij berkata: 'Tinggalkan aku sampai aku shalat.' Juraij shalat, kemudian setelah selesai ia pergi ke bayi itu dan menyentuh perutnya dengan jari-jarinya sambil bertanya: 'Wahai bayi kecil, siapa sebenarnya ayahmu?' Ajaibnya, bayi tersebut langsung menjawab: 'Ayah saya adalah si fulan, seorang penggembala.""

       Nabi melanjutkan kisahnya: "Akhirnya mereka memberi hormat kepada Juraij. Mereka menciumnya dan meminta berkah darinya. Setelah itu mereka berkata: Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu dengan bahan-bahan yang terbuat dari emas. Tetapi Juraij menolak dan berkata: "Tidak, kembalikan saja rumah ibadah itu ke keadaan semula yang terbuat dari tanah liat.' Akhirnya mereka mulai membangun rumah ibadah itu seperti semula." 

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3436), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 33), Muslim (no. 2550 (8) dan Ahmad (no. 8071)].

       Berkaitan dengan menjawab panggilan ibu ketika shalat, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahulloh menjelaskan: "Menurut mazhab Syafi'i, jika shalatnya itu adalah shalat sunnah dan diketahui bahwa sang ibu akan merasa sakit hati apabila tidak dijawab panggilannya maka wajib menjawab panggilannya, namun jika ia tahu ibunya tidak akan merasa sakit hati, maka tidak wajib menjawab panggilannya. Jika yang dikerjakan itu shalat wajib dan waktu shalat hampir habis, maka tidak wajib menjawab panggilan orang tua. Namun waktu shalat masih panjang, maka menurut Imamul Haromain wajib menjawab panggilan orang tua, hanya saja pendapat ini diselisihi oleh ulama lain. Menurut mazhab Maliki, menjawab panggilan orang tua saat shalat sunnah lebih baik daripada meneruskan shalat." (Fathul Bârî VI/483) 



Disusun : Wawan Hermawan, S. Pd. 

Masuk Islamnya Umar Bin Al-Khaththab

Masuk Islamnya Umar bin Al-Khatthab

Masuk Islamnya Umar bin Khotthob

Sahabat Nazir Channel sekalian,

           Umar  masuk Islam pada bulan Dzulhijjah, tahun ke-6 kenabian, yaitu tiga hari setelah keislaman Hamzah, 

Nabi memang telah berdoa kepada Allah agar dia masuk Islam sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan menshahihkannya dari Ibnu Umar dan hadits yang dikeluarkan oleh ath-Tabaroniy dari Ibnu Mas'ud dan Anas bahwa-sanya Nabi shalallohu'alaihi wasallam bersabda,      

اللهم أعز الإِسْلَامَ بِأَحَبِّ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَوْ بِأَبِي جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ

"Ya Allah! Muliakanlah Islam ini dengan salah satu dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin al-Khottob atau Abu Jahal bin Hisam?"  Ternyata orang yang lebih dicintai oleh Allah adalah Umar.

        Umar dikenal sebagai pribadi yang temperamental dan memiliki harga diri yang tinggi. Banyak Muslim merasakan berbagai penganiayaan yang dilakukannya. Bahkan, ada konflik batin dalam dirinya.  Di satu sisi, ia harus menghormati tatanan adat yang telah diciptakan oleh leluhurnya,tetapi di sisi lain, ia kagum dengan keteguhan hati kaum Muslimin dalam menghadapi berbagai cobaan untuk mempertahankan akidah mereka. Di sisi lain, ada berbagai keraguan dalam dirinya, sementara sebagai orang yang cerdas, ia berasumsi bahwa apa yang diserukan Islam bisa jadi lebih besar dan lebih suci daripada agama lain. Oleh karena itu, begitu hatinya berontak, ia langsung berteriak dengan lantang.

        Mengenai ringkasan kisah masuk islamnya Umar; dimulai dengan tindakan beliau pada suatu malam ketika beliau bermalam di luar rumahnya, kemudian beliau pergi ke Masjidil Haram dan memasuki tirai Ka'bah. 

Pada saat itu, Nabi ﷺ sedang berdiri solat dan membaca Surah Al-Haqqoh. Umar memanfaatkan kesempatan itu untuk mendengarkan beliau dengan penuh khusyu sehingga beliau merasa terkesan dengan lantunan ayat-ayatnya. 

ia berkata, "Aku berkata dalam hati: 'Demi Allah, Sesungguhnya beliau adalah seorang penyair sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Quraisy!' Kemudian Nabi membaca ayat: yang artinya

        "Sesungguhnya Al-Qur'an adalah wahyu (Allah kepada) Rasul yang mulia, dan bukan merupakan ucapan seorang penyair. Sedikit sekali kamu mempercayainya." (Qs. al-Haqqoh; 40, 41)

        Lalu aku berkata dalam hati, "Kalau begitu, berarti dia (Muhammad) adalah seorang pramal." Kemudian Nabi melanjutkan pembacaannya, hingga pada ayat yang berbunyi: "Dan ia bukan pula perkataan tukang peramal. Sedikit sekali kamu mengambil peringatan darinya. ini adalah wahyu yang diturunkan dari Robb semesta alam..." hingga sampai akhir surat itu. Maka, saat itulah Islam memasuki lubuk hatiku."

        Inilah awal benih Islam yang memasuki relung hati 'Umar bin Al-Khoththob. Tetapi kulit luar sentimentil Jahiliyyah dan fanatisme terhadap tradisi serta kebanggaan akan agama nenek moyang justru mengalahkan 'otak' hakikat yang dibisikkan oleh hatinya, Sehingga dia tetap bersikeras dalam upayanya melawan Islam, tanpa menghiraukan perasaan atau sinyal kebenaran islam yang bersemayam dibalik kulit luar tersebut. Salah satu bukti nyata dari karakternya yang keras dan rasa permusuhannya yang melampaui batas terhadap Rasulullah adalah ketika suatu hari ia keluar dengan pedang terhunus untuk membunuhnya. 

       Pada saat itu, ia bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah an-Nahhm al-Adawiy. -Ada riwayat lain yang menyatakan- "Seseorang dari suku Bani Zahrah" atau "Seseorang dari suku Bani Makhzum". Orang itu bertanya, "Hendak ke manakah engkau pergi, wahai Umar?"

Dia menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad."

Orang itu bertanya lagi, "Jika kamu membunuh Muhammad, bagaimana kamu akan merasa aman dari kejaran Bani Hasyim dan Bani Zahrah?"

Umar menjawab, "Saya menduga kamu telah menjadi pengikut agama baru dan telah meninggalkan agamamu."

Orang itu berkata kepadanya, "Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih mengejutkanmu lagi, wahai 'Umar? Sesungguhnya adik perempuan dan iparmu juga telah menjadi penganut agama baru dan meninggalkan agama yang sekarang engkau peluk!."

Mendengar itu, Umar segera berangkat untuk mencari mereka berdua dan ketika dia menemukan mereka, di sana dia mendapati Khabbab bin al-Aratt membawa syahifah (lembaran Al-Qur'an) dengan bertuliskan "Toha" dan membacanya kepada mereka berdua, karena dia secara rutin datang kepada mereka berdua dan membacakan Al-Qur'an untuk mereka berdua. Ketika Khabbab mendengar langkah kaki Umar, ia menyelinap ke belakang rumah, sementara saudara perempuan Umar menutupinya dengan kain. Ketika ia mendekati rumah, Umar telah mendengar Khabbab membacakan al-Qur'an untuk mereka berdua, jadi ketika ia masuk, ia segera bertanya, "Suara bisikan apa ini yang kudengar darimu?"

Keduanya menjawab, "Tidak ada apa-apa, hanya sekedar perbincangan di antara kami."

Umar berkata lagi, "Sepertinya kalian berdua telah menjadi pengikut agama baru."

Saudara iparnya berkata, "Wahai Umar! Bagaimana pendapatmu jika kebenaran ada di agama selain agamamu?"

Mendengar itu, 'Umar langsung melompat ke arah iparnya tersebut, lalu menginjak-injaknya dengan keras, Lantas adik perempuannya datang dan mengangkat suaminya menjauh darinya namun dia justru ditampar oleh Umar sehingga darah mengalir dari wajahnya. dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan bahwa dia memukulnya sehingga membuatnya terluka dan memar-. 

Adik perempuannya berkata dengan penuh kemarahan, "Wahai 'Umar, Jika kebenaran ada pada selain agamamu maka aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (Yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah." Manakala 'Umar merasa putus asa dan menyaksikan kondisi adiknya yang berdarah, dia menyesal dan merasa malu, lalu berkata, "Berikan tulisan yang ada ditangan kalian tersebut kepadaku agar aku dapat membacanya!."

        Saudarinya berkata, "Sesungguhnya engkau najis, dan janganlah seorang pun menyentuhnya kecuali orang yang suci. Bangunlah dan mandilah dulu!" Kemudian ia bangun dan mandi, lalu mengambil tulisan itu dan membaca 

"Bissmillahirrohmanirrohim." Ia bergumam, "Sungguh, ini adalah nama-nama yang terbaik dan paling suci." Kemudian ia melanjutkan dan membaca "Toha" sampai ia sampai pada ayat Allah (yang berbunyi),

"Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk mengingat-Ku." (Qur'an surat Toha ayat 14)

Dia bergumam lagi, "Alangkah indah dan mulianya Kalam ini!

Kalau begitu, bawalah aku menghadap Muhammad!

ketika Khabbab mendengar perkataan Umar, ia segera keluar dari persembunyiannya dan berkata, bergembiralah engkau Wahai Umar, karena Sungguh aku berharap bahwa engkau adalah orang yang dimaksud dalam doa Rasulullah sholallohu'alaihi wasallam pada Kamis malam: Yakni 

'Ya Allah Muliakanlah Islam ini dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai; Umar bin al-Khottob atau Abu Jahal bin Hisam.'"

Sementara itu, Rosulullah (pada waktu itu) berada di sebuah rumah yang terletak di kaki Gunung Shafa.

        'Umar mengambil pedangnya seraya menghunusnya, lalu berangkat hingga tiba di rumah tempat beliau berada tersebut. Dia mengetuk pintu, lalu seorang penjaga pintu mengintip dari celah-celah pintu tersebut dan melihatnya menghunus pedang. Penjaga tersebut kemudian melaporkan hal itu kepada Rasulullah . Para sahabat yang berjaga bersiaga penuh mengantisipasinya. Gelagat mereka tersebut mengundang tanda tanya Hamzah, "Ada apa gerangan dengan kalian?."

Mereka menjawab, "Umar!"

Dia berkata, "Lalu kenapa memangnya dengan Umar! Bukalah pintu untuknya! Jika dia datang dengan niat baik, kami akan membantunya, tetapi jika dia datang dengan niat jahat, kami akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri."

       Pada saat itu, Rosulullah Solallohu'alaihi wasallam masih berada di rumah dan sedang menerima wahyu, lalu beliau keluar untuk menemuinya dan mendapati beliau di kamar. Beliau meraih kerah bajunya dan gagang pedangnya, lalu menariknya dengan keras sambil berkata, "Tidakkah engkau akan berhenti dari perbuatanmu, wahai Umar, sampai Allah menghinakanmu dan menimpakan musibah kepadamu seperti yang menimpa al-Walid bin al-Mughirah? Ya Allah! Inilah Umar bin al-Khottob! Ya Allah! Muliakan Islam dengan Umar bin al-Khottob!"

Maka Umar berkata, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah dan bahwa engkau adalah Rosul Allah."

Maka ia pun masuk Islam, dan disambut dengan seruan takbir oleh penghuni rumah tersebut, yang terdengar oleh orang-orang di Masjid al-Haram.

'Umar merupakan sosok yang memiliki harga diri yang tinggi dan keinginan yang tidak dapat dicegah. Oleh karena itulah, Masuk islamnya Umar ini menimbulkan kejutan luar biasa di kalangan kaum musyrikin dan membuat mereka merasa semakin terhina dan direndahkan, 

sementara bagi kaum Muslimin hal itu meningkatkan martabat, kehormatan, dan kegembiraan mereka.

        Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanadnya dari 'Umar, dia berkata, "Tatkala aku sudah masuk Islam, aku mengingat-ingat, siapa penduduk Mekkah yang paling kejam terhadap Nabi.  Aku berkata, Pasti Abu Jahal-lah orangnya." Lalu aku datangi dia dan aku ketuk pintu rumahnya. Dia pun keluar menyambutku seraya berkata, "Selamat datang Umar! Ada apa gerangan?."

"Aku datang untuk memberitahumu bahwa aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad, serta membenarkan apa yang telah dibawanya." Lalu dia membanting pintu di hadapan wajahku seraya berkata, "Semoga Allah menjelekkanmu dan apa yang engkau bawa."

        Dalam versi Ibnul Jauziy disebutkan bahwa 'Umar berkata, "Dulu, jika seseorang masuk Islam, maka orang-orang mendatanginya lantas memukulinya dan dia juga balas memukuli mereka, namun tatkala aku telah masuk Islam, aku mendatangi pamanku, al Ashiy bin Hasyim dan memberitahukan kepadanya hal itu, dia malah masuk rumah. Lalu aku pergi ke salah seorang pembesar Quraisy -seperti Abu Jahal- dan memberitahukan padanya perihal keislamanku, tetapi dia juga malah masuk rumah."

        Ibnu Hisyam juga menyebutkan -demikian pula Ibnul Jauziy secara ringkas- bahwa ketika ('Umar) masuk Islam, dia mendatangi Jamil bin Ma'mar al-Jumahiy yang merupakan orang Quraisy yang paling cepat menyebarkan berita- dan memberitahukan kepadanya tentang keislamannya, orang ini langsung berteriak dengan sekeras-kerasnya bahwa Ibnul Khoththob telah menjadi penganut agama baru. Umar pun menimpali-dibelakangnya-, "Dia telah berbohong, akan tetapi aku telah masuk Islam." 

Mereka pun menyergapnya sehingga akhirnya terjadilah pertarungan antara 'Umar seorang diri melawan mereka. Pertarungan itu baru selesai saat matahari sudah berada tepat di atas kepala mereka, tetapi 'Umar sudah nampak kepayahan. Dia hanya bisa duduk sementara mereka berdiri dekat kepalanya. Dia berkata kepada mereka, "Lakukanlah apa yang kalian suka. Sungguh aku bersumpah atas nama Allah, bahwa andai kami berjumlah tiga ratus orang, niscaya kami biarkan mereka untuk kalian atau kalian biarkan mereka untuk kami."

        Setelah kejadian itu, kaum musyrikin berangkat dalam jumlah besar menuju rumahnya dengan tujuan akan membunuhnya. Imamul Bukhari meriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Umar, dia berkata, "Saat 'Umar berada di rumahnya dalam kondisi cemas, datanglah al- Ash bin Wail as-Sahmiy (yang dikenal dengan sebutan) Abu 'Amr, dengan memakai mantel dan baju terbuat dari sutera. Dia berasal dari suku Bani Sahm yang merupakan sekutu kami di masa Jahiliyyah. Al-Ash berkata kepadanya, "Ada apa denganmu?"

"Kaummu sesumbar akan membunuhku karena aku masuk Islam", jawab Umar.

Al-Ash berkata, "Tidak akan aku biarkan mereka melakukan hal itu terhadapmu."

Abdullah bin Umar berkata, "Setelah dia berkata demikian aku pun merasa lega."

Al-Ash kemudian keluar dan mendapatkan banyak orang yang sudah memadati lembah tersebut, lantas dia berkata kepada mereka, "Hendak kemana kalian?."

Mereka menjawab, "Menemui si Ibnul khoththob yang sudah menjadi penganut agama baru!."

Dia menjawab, "Kalian tidak akan aku biarkan mengganggunya." maka Orang-orang itu pun akhirnya membubarkan diri.

Dalam riwayat Ibnu Ishaq disebutkan, "Demi Allah! mereka membubarkan diri Seolah-olah mereka seperti pakaian yang telah dilepas dari tubuhnya."

Demikianlah dampak keislamannya terhadap kaum musyrikin, sedangkan terhadap kaum Muslimin adalah sebagaimana yang diri-wayatkan oleh Imam Mujahid dari ibnu Abbas, dia berkata, "Aku bertanya kepada Umar. 'Kenapa kamu dijuluki al-Farûq? (yakni pembeda antara gak dan batil) .

 dia berkata, hamzah masuk islam lebih awal dariku, (selanjutnya ia menceritakan kisah keislamannya) kemudian diakhirnya beliau berkata; lalu aku berkata (setelah masuk islam), "Wahai Rasulullah! Bukankah kita berada di jalan kebenaran, baik hidup maupun mati?"

Beliau menjawab, "Tentu saja! Demi Dzat Yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya kalian berada di atas kebenaran; mati ataupun hidup."

Lalu aku berkata, "Lantas untuk apa (kita) harus bersembunyi? Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sungguh kita harus keluar (menampakkan diri). Lalu kami membawa beliau keluar, kami terbagi dalam dua barisan; salah satunya dipimpin oleh Hamzah dan yang lainnya, dipimpin olehku. Deru debu yang diakibatkannya ibarat ceceran tepung. Akhirnya kami memasuki al-Masjid al-Haram. Kemudian kaum musyrikin Quraisy menoleh ke arahku dan Hamzah; mereka tampak diliputi oleh kesedihan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Sejak saat itulah, Rasulullah menamaiku "al-Faruq." (yakni pembeda antara gak dan batil) .

Ibnu Mas'ud sering berkata, "Sebelumnya, kami tidak berani melakukan sholat di sisi Ka'bah kecuali setelah Umar masuk Islam. 

        Dari Shuhaib bin Sinan ar-Rumiy, beliau berkata, "Ketika Umar masuk Islam, Islam menjadi nyata dan seruan kepada Islam dilakukan secara terbuka. Kami juga berani duduk melingkar di sekitar Baitulloh, melakukan tawaf, membalas perlakuan kasar orang-orang kepada kami dan membalas sebagian dari apa yang mereka lakukan." 

Dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata, "Kami senantiasa merasakan izzah (kemuliaan islam) sejak 'Umar masuk Islam."

sahabat Nazir Channel sekalian, 

Melalui kisah Umar kita mendapat faidah diantaranya adalah; Jangan pernah putus asa dalam mendoakan kebaikan, bahkan untuk orang yang paling memusuhi kita sekalipun. Barokallohu fiikum

Diambil dari : Kitab Roikhul Makhtum Karya Syeikh Mubarak Furi

PRIVAT MENGAJI IQRA DAN AL-QUR'AN VIA ONLINE

Privat Mengaji Online – Iqra & Al-Qur’an

Privat Mengaji Online – Iqra & Al-Qur’an

Belajar Online Dari Iqra Sampai Mahir Al-Qur’an
Fleksibel, efektif, dan sesuai kemampuan masing-masing siswa.

Pengajar:
Guru pengajar tahfidz Al Qur’an sejak tahun 2008 sampai saat ini

Pilihan Kategori

  • Iqra – Untuk pemula
  • Al-Qur’an – Lanjutan / memperdalam bacaan & tajwid

Pilihan Paket Pertemuan

Paket Hari Biaya / Bulan
Paket 1 Senin – Rabu Rp 120.000
Paket 2 Kamis – Sabtu Rp 120.000
Paket Lengkap (Diskon 10%) Senin – Sabtu Rp 216.000

Setiap siswa mendapat kesempatan membaca ±10 menit per sesi.
Metode belajar: Google Meet atau Voice Call WhatsApp.

Pilihan Waktu Belajar

Waktu Sasaran
05.00 – 06.00 Dewasa
16.00 – 17.00 Anak SD – SMA
17.00 – 18.00 Anak SD – SMA
20.00 – 21.00 Dewasa

Laporan Mingguan

Setiap pekan, orang tua / siswa akan menerima laporan kehadiran dan capaian prestasi melalui WhatsApp.

Cara Mendaftar

  • Nama Lengkap
  • Jenis Kelamin
  • Usia
  • Alamat Domisili
  • Kategori (Iqra / Al-Qur’an)
  • Paket Pilihan

Proses:

  1. Mengirim data pendaftaran
  2. Melakukan pembayaran paket
  3. Masuk grup WA sesuai kategori

HAFIZ CILIK ABDURRAHMAN FATIH AL-JAZAIR

(Bocah usia 3 tahun yang hafal berjuz-juz al-Qur'an) 

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Abdurrahman Farih Al Jazairi 
       Pernahkah Anda mendengar atau melihat seorang anak berusia tiga tahun menghafal begitu banyak ayat Al-Quran? Dia adalah Abdurrahman Farih dari Aljazair. Dia bahkan telah menghafal surah-surah yang panjang dan dapat membacanya dengan khidmat dan gembira tanpa kesalahan dalam aspek hukum tajwid dan tanpa perubahan ayat atau surah.

       Anak ajaib ini sangat senang jika dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an, kemudian ia pun menghafalkannya. Hal ini sungguh menakjubkan sebab yang kita kenal dalam masyarakat kita, anak yang baru berusia tiga tahun biasanya lebih akrab dengan mainan, menangis, dan tertawa ria. Kemudian, ia akan tidur lelap di pelukan sang bunda atau dengan sebotol susu pendampingnya, dengan diiringi lagu nina bobok dan semisalnya.

       Meskipun ketika belum berumur tiga tahun ia belum bisa membaca satu kata pun, tetapi ia sudah mampu menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an dan melantunkannya secara baik dan benar. Sejak lidahnya mulai bisa menirukan suara, ia terbiasa menirukan dan mengulang-ulang bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an setiap harinya sehingga pada akhirnya la berhasil menghafal sekian surat atau sekian juz Al-Qur'an. Hal ini ia lakukan tanpa pernah berangkat ke masjid atau madrasah untuk menghafalkannya.

       Ada yang memberitakan bahwa anak ajaib itu telah hafal 30 juz Al-Qur'an ketika berusia tiga tahun. Namun, berita ini belum bisa dipastikan kebenarannya. Yang pasti, ia telah hafal sekian banyak surat/juz Al-Qur'an serta berbagai macam lafal doa dan zikir. Hal itu dapat dibuktikan melalui video yang dapat kita saksikan melalui youtube atau yang lainnya.


Didiktekan Bacaan Al-Qur'an Sejak dalam Kandungan

       Ketika sang bunda ditanya tentang bagaimana kisah Abdurrahman dalam menghafalkan Al-Qur'an, la menjelaskan, "Sebenarnya, sejak mulai mengandungnya, aku selalu membaca Al-Qur'an. Setiap malam Jum'at, aku selalu membaca Surat al-Kahfi. Adapun setiap harinya, aku selalu membaca Mu'owwidzatain (al-Falaq dan an-Nas) serta Surat al-Mulk. Setelah ia lahir, setiap hari aku selalu me-ruqyah-nya dan membacakan kepadanya zikir pagi dan petang. la tidak bisa tidur, kecuali telah aku bacakan zikir-zikir itu. Setelah aku bacakan ruqyah, ia baru merasa nyaman dan kemudian tidur lelap."

       Kegiatan sehari-hari di rumah lebih banyak dihabiskan oleh anak ajaib ini untuk mendengar dan menyaksikan channel al-Affasi, terutama ketika menayangkan program tilawah Al-Qur'an. Bahkan, sambil bermain, ia biasa menyenandungkan bacaan Al-Qur'an. Ketika sang ibu mencoba mengalihkan ke channel lain yang berisi animasi kartun, ia menolak dan meminta untuk dikembalikan ke channel yang berisi program Al-Qur'an.


Sang Bunda Mengidam Surat al-Kahfi

      Sang bunda mengungkapkan sebuah rahasia di balik adanya anugerah rabbaniyyah yang luar biasa ini pada diri sang fenomenal, Abdurrahman Farih. Kejadian yang tidak lazim itu bermula sejak ia masih di dalam perut sang bunda, yaitu sang bunda mengidam surat al-Kahfi. la ingin terus membaca surat ini. Oleh karena itu, ia pun selalu membaca surat ini setiap hari. Sesudah membacanya, baru muncul perasaan nyaman yang luar biasa. Ketika sang anak mulai bisa berbicara, yang pertama-tama diucapkannya adalah Surat al-Kahfi. Bahkan, surat ini dibacanya secara lancar mulai dari awal hingga akhir. Demikian keterangan harian asy-Syuruq yang terbit di Aljazair.

       Para ahli janin menegaskan bahwa janin itu mendapatkan pengaruh yang luar biasa dari apa yang juga berpengaruh terhadap ibu yang sedang mengandungnya. Jika sang ibu ketika itu sangat enjoy terhadap musik, begitulah anak yang kemudian akan lahir dari rahimnya: cinta musik. Demikian juga kecenderungan yang lainnya. Jika sang ibu menikmati lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, bahkan merasa tidak bisa lepas darinya, hal yang sama juga akan sampai ke kalbu si janin. Mahasuci Dzat Pencipta yang telah menciptakan ciptaan-Nya dengan begitu eloknya.


Awal Menghafalkan Al-Qur'an

       Sang ibu menceritakan bahwa awalnya si anak mulai menghafal Al-Qur'an melalui channel al-Affasi. Lewat saluran ini, ia banyak mendengarkan lantunan bacaan Al-Qur'an. Adapun sang ayah, Muhammad Farih, berusaha menjadikan buah hatinya ini selalu mendapatkan pengaruh dari mendengarkan lantunan Al-Qur'an sebelum ia mengenal dunia luar.

       Ada yang unik dari seorang anak pemilik suara merdu dan bahasa yang fasih nan lembut ketika melantunkan bacaan Al-Qur'an ini. la tidak pernah ketinggalan mengucapkan shalawat untuk baginda Nabi Muhammad setiap kali nama beliau disebut, la juga tidak pernah lepas dari bacaan Mu'awwidzatain (Surat al-Falaq dan an Nås) serta tidak bisa tidur sebelum membaca zikir.

       Di negerinya, Aljazair, ia digelari sebagai färisul qur'an (jawara Al-Qur'an) dan ia memang layak mengenakan mahkota ini. la juga berhak mengenakan "baju emas" (simbol kebesaran) yang dipakaikan langsung oleh mugri Masjidil Aqsha, Syekh Muhammad Rasyad asy-Syarif.

       Anak ajaib ini biasa menghafalkan Al-Qur'an dengan cara mendengarkan bacaan, sesekali dari ibunya sendiri dan di lain waktu melalui tayangan lantunan Al-Qur'an di saluran televisi al-Affasi, yang ditilawah oleh Syekh Misyari Rasyid al-Affasi. Bahkan, ketika berada di dalam mobil bersama keluarga, ia masih juga meminta dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.

       Selain itu, sang ibu juga terbiasa me-ruqyah-nya dengan ayat-ayat Al-Qur'an ketika ia berusia enam bulan. Ruqyah itu dimaksudkan untuk melindungi sang anak dari pengaruh mata jahat (al-'ain) dan dari segala hal buruk yang tidak diinginkan. Setelah membacakan ayat-ayat Al-Qur'an, sang bunda mengusapkan tangannya pada tubuh buah hatinya.

       Ada hal unik dari anak brilian ini, sebagaimana yang diceritakan oleh ibunya bahwa ia bisa menirukan tilawah Al-Qur'an yang didengarkan dari channel al-Affasi sebelum ia bisa berbicara secara normal saat berusia dua tahun.

       Meskipun ia belum mengenal pengucapan kalimat secara sempurna dan belum bisa mengungkapkan atau meminta apa yang menjadi keinginan dan keperluannya seperti yang terjadi pada anak-anak seusia dengannya, tetapi ia telah mengerti betul nama-nama surat dan ayat yang Dia menghafalnya. Selain itu, dia juga mengetahui hadits-hadits (sabda) Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallam.

       Sang ibu juga menceritakan bahwa ia sebenarnya belum kenal baca tulis. Hanya saja, ia memang berhasil menghafalkan sekian banyak surat-surat Al-Qur'an dengan cara terus-menerus mendengarkan siaran tilawah Al-Qur'an. Selain itu, ia juga menghafalkan Al-Qur'an dengan cara mendengarkan hafalan Al-Qur'an dari sang bunda tercinta.


Surat-Surat Al-Qur'an yang Pertama-tama Dihafal

       Ada satu hal yang menakjubkan dari anak fenomenal ini, yaitu bahwa surat-surat yang biasa dibaca oleh sang bunda saat sedang mengandungnya, itulah yang kemudian dapat ia hafalkan dengan begitu mudah. Begitu juga, ia dapat dengan mudah hafal secara lengkap doa khatam Al-Qur'an tanpa ada yang kurang sedikit pun. Itulah yang ia tunjukkan saat diundang dalam sebuah majelis di hadapan para tamu agung, juga sebagaimana yang ia tampilkan dalam acara wawancara dengan harian asy-Syuruq.

       Di antara surah-surah pertama yang dihafalnya adalah Mu'awwidzatain (al-Falaq dan an-Nas) dan ayat-ayat terakhir Surah al-Baqarah dan Ayat al-Kursi. Hal ini dapat dimengerti karena surah-surah dan ayat-ayat itulah yang paling sering didengarnya dan terus diulang setiap pagi dan sore, baik dari orang tuanya maupun melalui Al-Quran. Ini juga merupakan bagian dari bacaan wirid pagi dan sore. Dia juga sering meminta ayahnya untuk membacakan doa-doa khatam Al-Qur'an ketika sedang berada di dalam mobil.


Masih Bocah Sudah Kenal Tata Krama. 

       Meskipun masih anak-anak, Abdurrahman sudah memahami adab dalam membaca Al-Quran, mulai dari melafalkan isti'adzah dan basmalah hingga memperhatikan masalah hukum mad dan sebagainya. Bahkan, ketika menyebut hadits Nabi, ia tidak lupa menyebutkan perawinya. Ia juga tidak lupa mengirimkan salam kepada Nabi Muhammad (saw) setiap kali namanya disebut. Ia mempelajari semua ini dari apa yang didengar dan dilihatnya, baik melalui siaran televisi maupun dari lingkungannya.

       Keluarganya, terutama orang tuanya, sebenarnya telah lama menantikan kelahirannya. Ibunya baru mengandungnya setelah tiga tahun menikah.

        Semua ini membuat Muhammad Farih, ayah dari anak ajaib ini, semakin bahagia dan bangga dengan anak istimewa yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Menyaksikan fenomena ini, sang ayah bertekad untuk membimbing putranya agar menjadi seorang hafizh dan qari' yang handal. "Aku akan terus memperhatikan kelebihan dan bakat yang dimiliki anak ini sebisa mungkin sampai ia benar-benar bisa menjadi seorang hafizh Al-Quran dan muqri (guru qira'ah)," katanya.

       Ayah anak ajaib ini telah membuat program lebih awal bagi kehidupan anaknya. Intinya adalah membantu sang anak dengan berbagai sarana audio visual berkenaan dengan kegiatan membaca, mendengarkan, dan menghafalkan Al-Qur'an agar ia benar-benar bisa hafal Al-Qur'an  sempurna (30 juz) serta menguasai macam-macam jenis qira'ah yang ada. Program ini beliau rancang untuk anaknya sampai kira-kira berusia lima tahun. Sebab setelah usia tersebut, sang anak hendak dimasukkan ke madrasah khusus Al-Qur'an. Tujuannya agar bacaan Al-Qur'annya dapat diluruskan oleh para guru Al-Qur'an yang memang ahli di bidangnya. Hal ini dimaksudkan agar hafalan Al-Qur'annya benar-benar mantap dan matang. Di samping itu, ada kekhawatiran jika hafalannya itu tercampur dengan hal-hal yang lain di luar Al-Qur'an, yang bisa mengganggu hafalannya, apalagi anak ini sebenarnya belum kenal baca tulis.

       Terang saja, kelebihan dan talenta yang dimiliki oleh anak ajaib ini menarik kekaguman masyarakat, termasuk para tokoh dan pakar Al-Qur'an. Itulah yang terjadi setelah anak ini tampil di layar kaca dalam sebuah acara yang ditayangkan di pagi hari. Salah seorang syekh memberikan pujian khusus kepadanya atas bacaan dan hafalannya, mengingat usianya yang masih sangat belia. Bahkan, syekh tersebut berkomentar bahwa ini merupakan sebuah fenomena yang unik dan amat langka di dunia ini. Anak-anak seperti ini jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Oleh karena itu, ia harus terus mendapatkan sokongan dan dorongan dari semua pihak agar makin matang.


Lucu dan Lugu

Batita hafal Qur'an
        Namanya anak tetap saja anak. Meskipun sudah hafal sekian banyak surat, ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang usianya, Abdurrahman Farih pun menjawab semaunya. "Usiaku dua minggu. Kalau besar nanti, aku akan belikan roti untuk Ummi." Lucu, kan?

       Ia sering melafalkan Al-Quran sambil tersenyum, memegang, menarik, dan menggerakkan benda-benda di sekitarnya. Namun, ia tidak berhenti melafalkan sampai selesai. Ketika ia melakukan kesalahan, ibunya segera mengoreksinya. Kemudian, ia melanjutkan melafalkan dari hafalannya dan hanya berhenti di akhir setiap huruf.

       Sang ibu memang sangat sabar dan teliti dalam mendampingi anaknya ketika membaca Al-Quran, dan kemudian mengoreksinya jika ada kesalahan. Hal ini agar kesalahan tersebut tidak terulang di masa mendatang. Peran ibu dalam mendidik anaknya sungguh luar biasa; sebuah contoh bagi kita. 


Membaca Al-Qur'an dengan Penuh Penghayatan

       Ketika membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an, raut wajah anak ajaib ini berubah-ubah sesuai dengan perubahan ayat yang sedang dibacanya. Seakan ia benar-benar merenungi dan meresapinya. Bayangkan, anak kecil yang baru berumur tiga tahun sudah hafal Surat al-Kahfi, Maryam, Juz 'Amma, dan beberapa hadis Nabi.

       Ketika Anda menyaksikan Abdurrahman Farih sedang membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang sarat tajwid dan hukum-hukumnya, Anda seakan sedang berada di depan seorang syekh atau imam masjid. Padahal, sebenarnya Anda sedang berada di depan seorang anak kecil yang sama sekali belum mengenal baca tulis. Namun, ketika diminta untuk membacakan Al-Qur'an, ia dapat membacanya dengan lancar.

Demikian kisah penggugah dan inspirasi bagi kita yang mendambakan anak-anak yang shalih dan shalihah, yang dekat dengan al-Qur'an. Semoga bermanfaat. 

Barokalloh fiikum. W assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Penyusun: Wawan Hermawan, S. Pd. I

Sumber : Judul buku "Balitapun Hafal Al-Qur'an" Karya Salahudin Abu Sayyid 


RUMAH TANGGA NABI Shalallahu'alaihi wasallam.

   Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Gambar ilustrasi

       Siapa pun yang membaca biografi Nabi Shalallohu'alaihi wasallam pasti akan takjub dengan perilakunya yang sangat baik dan terpuji terhadap semua lapisan masyarakat pada umumnya, dan terhadap keluarganya secara khusus. Pujian Allah Ta'ala kepadanya adalah bukti dari hal ini.

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِیمࣲ

"Dan, sesungguhnya kamu (hai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. "(QS. Al-Qalam: 4)

'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Sesungguhnya akhlak Nabi Shalallahu'alaihi wasallam adalah Al-Qur'an."  [HR Muslim no. 746]

       Di sini, tidak ada salahnya saya menyampaikan beberapa contoh perilaku Nabi terhadap keluarganya melalui penjelasan berikut.


A. Nabi dan Istri-istrinya

       Kehidupan Nabi ﷺ di rumahnya dan di antara istri-istrinya merupakan contoh yang ideal. Kehidupan yang mencontohkan cinta, perdamaian, menghindari kesulitan, memberi pertolongan, dan menghindari ucapan kotor dan kasar. Beliau adalah orang yang mengatakan:

( خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي )

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang terbaik terhadap istriku."

[HR. At-Tirmidzi (no. 3895), beliau menilai bahwa hadits tersebut hasan shahih gharib Ibnu Majah (no. 1977), dan ad-Darimi dalam as-Sunan (no. 2260).]

       Al-Aswad berkata: "Suatu ketika saya bertanya kepada 'Aisyah tentang kegiatan Nabi ﷺ di rumahnya. Dia menjawab: 'Beliau sering membantu istrinya. Ketika waktu shalat tiba, beliau segera pergi untuk shalat.' [HR. Al-Bukhari (no. 676).]

       Dari 'Urwah, ia bercerita bahwasanya 'Aisyah radiyallahu'anha pernah ditanya tentang aktivitas Rasulullah di rumahnya. la menjawab: "Beliau menjahit bajunya, menambal sandalnya, dan mengerjakan apa yang lazim dilakukan oleh kaum pria di rumah mereka."4

[Diriwyatkan oleh Ahmad (VI/121), Ibn Hibban (XII/490, no. 5677), beliau mengesahkan hadits ini, dan Abu Ya'la dalam musnad-nya (VIII/287, no. 4876)]

Dari 'Amrah, ia berkata bahwasanya 'Aisyah radiyallahu'anha pernah kerjakan di ditanya:

قِيلَ لِعَائِشَةَ: مَاذَا كَانَ يَعْمَلُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي بَيْتِهِ؟

قَالَتْ: كَانَ بَشَرًا مِنَ الْبَشَرِ، يَفْلِي ثَوْبَهُ، وَيَحْلِبُ شَاتَهُ، وَيَخْدُمُ نَفْسَهُ. 

"Aktivitas apa yang biasa Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam rumahnya?" la menjawab: "Beliau hanya manusia biasa. Beliau suka membersihkan bajunya dari kutu, memerah susu kambingnya, dan melayani dirinya sendiri." 

[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam asy-Syama-il (no. 293), Ibnu Hibban dalam kitab Sahih (no. 2136), dan Abu Ya'la dalam Musnadnya (no. 4873). Ad-Dhahabi dalam Siyar (VII/158) mengatakan bahwa hadits ini bersanad bagus.

Dari Aisyah radiyallahu'anha ia berkata: 

كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ، ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ ﷺ فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ فَيَشْرَبُ

وَأَتَعَرَّقُ الْعَرْقَ وَأَنَا حَائِضٌ، ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ ﷺ فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ

"Suatu kali aku minum dalam keadaan haidh. Kemudian, aku memberikan gelas minumanku kepada Nabi. Beliau lantas menempelkan bibirnya pada sisi gelas bekas bibirku, lalu meminumnya. Aku juga pernah menggigiti daging (di tulang) saat haidh. Kemudian, aku memberikannya kepada beliau. Beliau lantas menggigitinya di bekas gigitanku." (Sahih Muslim, no 300) 

         Di antara yang beliau lakukan untuk refreshing  (mengilangkan perasaan jenuh) adalah, Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam mengajak istrinya lomba lari dengan-nya.

       Dari Ummul Mukminin 'Aisyah ia bercerita: "Aku pernah pergi bersama Nabi dalam sebuah perjalanan. Saat itu aku masih anak-anak dan badanku masih ramping. Beliau berkata kepada para Sahabatnya: 'Berangkatlah kalian terlebih dahulu!' Mereka pun menurutinya, dan bergegas berangkat. Setelah itu, beliau berkata kepadaku: 'Mari kita berlomba laril' Aku menyetujuinya, dan aku berhasil mendahuluinya dalam lomba itu. Selesai lomba, beliau tidak berkomentar apa-apa kepadaku. Selang beberapa waktu-lamanya dari lomba itu, badanku gemuk. Aku  sudah lupa kejadian waktu itu. Aku pergi bersamanya dalam perjalanan lain. Kemudian, dia berkata kepada para sahabatnya: 'Kalian duluan!' Mereka menurutinya, dan bergegas berangkat. Setelah itu, dia berkata kepadaku: 'Ayo kita lari lagi!' Aku setuju, dan dia berhasil mengalahkanku dalam perlombaan ini. Setelah perlombaan, dia tertawa dan berkata: 'Kemenangan ini untuk membalas kekalahan sebelumnya.'

Kadang-kadang, 'Aisyah radiyallahu 'anha  berbicara keras-keras kepada Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam. 

Dari an-Nu'man bin Basyir, ia berkata:

اسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَ صَوْتَ عَائِشَةَ عَالِيًا، ‏‏‏‏‏‏فَلَمَّا دَخَلَ تَنَاوَلَهَا لِيَلْطِمَهَا، ‏‏‏‏‏‏وَقَالَ:‏‏‏‏ أَلَا أَرَاكِ تَرْفَعِينَ صَوْتَكِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ‏‏‏‏‏‏فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْجِزُهُ، ‏‏‏‏‏‏وَخَرَجَ أَبُو بَكْرٍ مُغْضَبًا، ‏‏‏‏‏‏فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ:‏‏‏‏ كَيْفَ رَأَيْتِنِي أَنْقَذْتُكِ مِنَ الرَّجُلِ،‏‏‏‏ قال:‏‏‏‏ فَمَكَثَ أَبُو بَكْرٍ أَيَّامًا، ‏‏‏‏‏‏ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ‏‏‏‏‏‏فَوَجَدَهُمَا قَدِ اصْطَلَحَا، ‏‏‏‏‏‏فَقَالَ:‏‏‏‏ لَهُمَا أَدْخِلَانِي فِي سِلْمِكُمَا كَمَا أَدْخَلْتُمَانِي فِي حَرْبِكُمَا،‏‏‏‏ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:‏‏‏‏ قَدْ فَعَلْنَا قَدْ فَعَلْنَا 

Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhu meminta izin masuk ke rumah Nabi ﷺ. Ketika ia mendengar suara ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anha terdengar keras, setelah masuk, ia (Abu Bakar) mencoba menegurnya, seraya berkata:

“Apakah pantas kamu meninggikan suara kepada Rasulullah ﷺ?”

Nabi ﷺ segera berdiri dan menengahi Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhu dengan Aisyah. Abu Bakar pun keluar dengan marah.

Setelah itu, Nabi ﷺ berusaha menghibur 'Aisyah dengan berkata kepadanya:

Bagaimana menurutmu? Bukankah aku telah menengahi kalian dari lelaki itu?”

Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhu kemudian tinggal beberapa hari, kemudian ia meminta izin untuk menemui Nabi ﷺ dan ‘Aisyah, dan ia mendapati keduanya sudah berdamai.

Abu Bakar berkata:

“Masukkan aku dalam perdamaian kalian sebagaimana kalian dulu memasukkan aku dalam perselisihan kalian?”

Nabi ﷺ menjawab: “Sudah kami lakukan, sudah kami lakukan.” 

[HR. Ahmad dalam Musnadnya (VI/264) dan Abu Dawud (no. 2578). Hadits ini diriwayatkan oleh al-Irak dalam Takhrijul Ihya (11/40) dan al-Albani dalam Adibuz Zifal (hal. 276)].

       Anas bin Malik  radhiyallahu 'anhu meriwayatkan tentang Safiyyah radiyallahu 'anha: "Aku melihat Nabi melingkarkan tapi ke atas punuk unta untuk duduk. Kemudian, beliau duduk berlutut di samping unta tersebut.  Safiyyah kemudian menaiki unta dengan menginjak lutut beliau hingga ia duduk di atasnya." [HR. Al-Bukhari no 4211]


       Dari 'Aisyah radiyallahu 'anha, ia bercerita: "Suatu ketika, aku me-nemui Nabi ﷺ sambil membawa makanan khazirah-daging cincang yang banyak kuahnya, lalu ketika matang dibubuhi tepung- yang aku masak untuk beliau. Saat itu, beliau tengah bersama Saudah. Aku meminta Saudah untuk mencicipinya, sementara beliau berada di antara kami. Namun, Saudah enggan memakannya. Aku pun berkata: 'Makanlah makanan ini. Kalau tidak, aku akan melumuri mukamu dengannya! Saudah tetap tidak mau. Karena tetap menolak, maka aku masukkan tanganku ke makanan itu, lalu kuoleskan ke muka Saudah. Melihat hal itu, Nabi ﷺ pun tertawa, lalu beliau ikut mengusapkan tangannya ke daging sambil berkata: 'Olesi mukanya! Beliaupun tertawa karenanya.

[Al-Haithami, dalam Majmaluz Zawa-id (IV/315), mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Abu Yala (no. 4476) dengan perawi yang dikenal sebagai perawi dalam kitab sahih, kecuali Muhammad bin 'Amr bin 'Alqamah. Menurut al-Haitsami, hadits ini berstatus hasan.]


Disusun oleh: Wawan Hermawan, S. Pd. I

Sumber          : Buku "Melawan Kezaliman Terhadap Wanita" Karya Muhammad bin Abdullah al-Habdan 


MISTERI PENUNGGU MAKAM NABI YUSUF 'Alaihissalam

Assalamu'alaiku warahmatullahi wabarakatuh


Nenek Tua Masuk Surga 

       Sahabat Muslim sekalian, Pernahkah kamu mendengar bahwa dahulu dizaman bani Israil terdapat sebuah kisah seorang nenek tua berhasil masuk surga karena perjanjiannya dengan Nabi Musa Alaihissalam. Bagai mana kisahnya? Mari kita simak melalui hadits berikut ini.

BAHAYA SIHIR

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh Ilustrasi Sihir         Sesungguhnya orang yang melakukan sihir adalah orang yang kafir. All...