Nasihat Singkat

Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari)

Kisah Juraij dan Doa Seorang Ibu

 

Kisah Juraij mengabaikan panggilan ibu

      Kisah Juraij berikut ini merupakan argumen bahwa kita harus memprioritaskan berbakti kepada orang tua di atas amalan-amalan yang wajib, kifayah, dan sunnah. Kisah ini diriwayatkan oleh Nabi Muhammad صلى الله علي وسام. Muslim dalam Sahihnya meriwayatkan kisah ini: Dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم beliau bersabda: "Tidak ada bayi yang dapat berbicara saat masih di dalam buaian kecuali tiga bayi: bayi Isa bin Maryam, bayi dalam kisah Juraij, dan bayi dalam kisah Asy-sabu Ukhdud (lihat Sahih Muslim [no. 3005]).

       Juraij adalah seorang pria yang tekun beribadah. Ia membangun tempat ibadah dan selalu beribadah di sana. Ketika ia sedang melaksanakan salat sunnah, tiba-tiba ibunya datang dan memanggilnya: 'Wahai Juraij!' Juraij bertanya dalam hatinya: 'Ya Allah, manakah yang lebih penting bagiku, melanjutkan salatku atau memenuhi panggilan ibuku?' Akhirnya, ia melanjutkan salatnya hingga ibunya merasa kecewa dan meninggalkannya. Keesokan harinya, ibunya datang lagi kepadanya ketika Juraij sedang melaksanakan salat sunnah. Kemudian ibunya memanggilnya: 'Wahai Juraij!' Juraij berkata dalam hatinya: 'Ya Allah, manakah yang lebih penting bagiku, memenuhi panggilan ibuku atau salatku?' Kemudian Juraij melanjutkan salatnya hingga ibunya merasa kecewa dan meninggalkannya.

       Keesokan harinya, ibunya datang lagi ketika Juraij sedang melaksanakan salat sunnah. Seperti biasa, ibunya memanggil: 'Wahai Juraij!' Juraij berkata dalam hati: 'Ya Allah, mana yang harus kuutamakan, melanjutkan salat atau memenuhi panggilan ibuku?' Namun Juraij melanjutkan salatnya dan mengabaikan panggilan ibunya. Sayangnya, hal ini mengecewakan ibunya. 

Hingga tak lama kemudian, ibunya berdoa kepada Tuhan: 'Ya Tuhan, jangan bunuh dia sebelum dia menjadi sasaran fitnah dari para pelacur!'

       Kaum Bani Israil selalu memperbincangkan tentang Juraj dan ibadahnya, hingga ada seorang wanita pelacur yang cantik berkata: 'Jika kalian menginginkan popularitas Juraij hancur di masyarakat, maka aku bisa memfitnahnya demi kalian.

       Nabi melanjutkan sabdanya: "Kemudian pelacur itu mulai menggoda dan membujuk Juraij, tetapi Juraij tidak mudah tertipu oleh godaan pelacur itu. Kemudian pelacur itu pergi kepada seorang penggembala sapi yang kebetulan sering berlindung di tempat ibadah Juraij. Ternyata wanita itu berhasil menipunya hingga penggembala itu berzina dengannya sampai akhirnya wanita itu hamil."

       Setelah melahirkan, pelacur itu berkata kepada masyarakat sekitar: 'Bayi ini adalah hasil dari perbuatanku dengan Juraij.' Mendengar pengakuan wanita itu, masyarakat menjadi marah dan membenci Juraij. Mereka datang ke tempat ibadah Juraij untuk menghancurkannya.

       Selain itu, mereka juga menghakimi Juraij bersama-sama tanpa bertanya kepadanya terlebih dahulu. Kemudian Juraij bertanya kepada mereka: 'Mengapa kalian melakukan ini kepadaku?' Mereka menjawab: 'Kami melakukan ini kepadamu karena kamu berzina dengan pelacur ini sampai dia melahirkan seorang bayi sebagai akibat dari perbuatanmu.' Juraij berseru: 'Di mana bayinya?' Kemudian mereka membawa bayi hasil perzinahan itu. Juraij berkata: 'Tinggalkan aku sampai aku shalat.' Juraij shalat, kemudian setelah selesai ia pergi ke bayi itu dan menyentuh perutnya dengan jari-jarinya sambil bertanya: 'Wahai bayi kecil, siapa sebenarnya ayahmu?' Ajaibnya, bayi tersebut langsung menjawab: 'Ayah saya adalah si fulan, seorang penggembala.""

       Nabi melanjutkan kisahnya: "Akhirnya mereka memberi hormat kepada Juraij. Mereka menciumnya dan meminta berkah darinya. Setelah itu mereka berkata: Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu dengan bahan-bahan yang terbuat dari emas. Tetapi Juraij menolak dan berkata: "Tidak, kembalikan saja rumah ibadah itu ke keadaan semula yang terbuat dari tanah liat.' Akhirnya mereka mulai membangun rumah ibadah itu seperti semula." 

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 3436), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 33), Muslim (no. 2550 (8) dan Ahmad (no. 8071)].

       Berkaitan dengan menjawab panggilan ibu ketika shalat, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahulloh menjelaskan: "Menurut mazhab Syafi'i, jika shalatnya itu adalah shalat sunnah dan diketahui bahwa sang ibu akan merasa sakit hati apabila tidak dijawab panggilannya maka wajib menjawab panggilannya, namun jika ia tahu ibunya tidak akan merasa sakit hati, maka tidak wajib menjawab panggilannya. Jika yang dikerjakan itu shalat wajib dan waktu shalat hampir habis, maka tidak wajib menjawab panggilan orang tua. Namun waktu shalat masih panjang, maka menurut Imamul Haromain wajib menjawab panggilan orang tua, hanya saja pendapat ini diselisihi oleh ulama lain. Menurut mazhab Maliki, menjawab panggilan orang tua saat shalat sunnah lebih baik daripada meneruskan shalat." (Fathul Bârî VI/483) 



Disusun : Wawan Hermawan, S. Pd. 

Tidak ada komentar:

BAHAYA SIHIR

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh Ilustrasi Sihir         Sesungguhnya orang yang melakukan sihir adalah orang yang kafir. All...